MERAH
Posted Farih Fitrianti Felinda
Merah.
Pastinya kata itu sudah tak asing lagi untuk kita semua. Warna merah. Ya,
itulah yang ku maksud. Warna merah biasanya identik dengan semangat yang
berkobar – kobar, atau .. lebih ke suatu keberanian, emm atau lebih condong ke
sifat keras kepala. Ya yaa.. semua pernyataan itu benar, tapi bagaimana dengan
warna merah sebagai warna suatu cairan yang ada didalam tubuh setiap manusia,
yang melampau batas keluar dari tempat alirannya. Menetas tetes demi tetes. Mmm
..
“
Merah Darah “
Tingg
tongg ...
Matahari
kini menjadi warna keemasan. Burungpun telah bangun dari kelelapan istirahat
siangnya. Tepat di angka 3 saat aku melihat jam itu.
“
Alika .. Bangun ..Lihat lihat sudah sampai niih, turun .. turun “
“
ahh ... iya bu, sebentar”
Beratnya
terasa , malas – malas mataku membuka katupnya. Samar – samar terlihat jelas
pemandangan dan suasana di sekitar desa ini. Sungguh sejuk.
“
mmm...uupss , ah selendangku .”
“
Ada apa Al?” Ucap ibuku
“
selendangku bu, selendangku terbang kebawa angin tadi, gimana yah bu? Tadi aku
lihat kayaknya kebalik pohon di samping halaman itu lho bu”
“ohh,
ya sudahlah biarkan saja, lebih baik sekarang cepat masuk , bereskan bawaanmu
dan istirahatlah, jangan sampai liburan kita sekeluarga hancur cuma gara – gara
kamu sakit.”
“
Oke bu,”
Ohiya,
Aku Alika, kami sekeluarga sengaja pergi berlibur kedesa untuk menghabiskan
waktu liburan di villa baru ayahku. Yaa .. itung – itung menghirup udara segar
yang jauh dari polusi – polusi kota lah ..Aseek ^_^
Angin
tiba – tiba berhembus sangat kencang, hingga menerbangkan semua dedaunan di
sebelah kamar kecilku , selang beberapa menit hembusan itu datang lagi, terasa
aneh. Mungkin angin marah, hingga jendela kamarku pun ikut saja dia banting.
Entahlah.
Suasana
semakin terasa aneh. Rasanya memunculkan sebuah perasaan penasaran di dalam
benakku untuk berjalan mendekat ke jendela kamar. Apa? Ada apa? Ku lihat di
balik batang pohon besar itu ada sebuah selendang merah seperti selendangku dan
terhempas – hempas oleh angin, seperti melambai – lambai padaku, memintaku
untuk menemuinya.
“
Eh, itu selendangku yang tadi terbawa angin. Syukurlah, aku akan turun dan
mengambilnya. “
“hei
itu dia selendangku, emm . tampaknya terlihat aneh. Entahlah.”
Tiba
– tiba ketika aku mulai mendekat ke pohon itu, angin datang lagi dan
menjatuhkan selendang itu, seketika ada tetesan jatuh tepat di kakiku .
“
Apa ini? Darah? Apa? Aku tak terluka. Lalu apa ini?”
“Hai,
apakah ini selendangmu?”
Perhatianku
berpindah pada seorang gadis yang tiba – tiba muncul dari balik batang pohon.
“Eh?
Siapa kamu?
Ya,
Ini selendangku . Baru saja aku akan mengambilnya ”
“
wah, selendangmu bagus. Kita punya selendang yang sama. Merah. Seperti
kesukaanku.
Maukah
kalau selendangku menjadi selendangku dan sebaliknya, ini sebagai tanda
perkenalan. Ayolah ?.“
“
Okeh, Aku ambil selendangmu. Siapa namamu?”
“
Nasya.”
“
oh. Aku Alika.Kau dari mana?”
Belum
terjawab pertanyaanku, gadis itu raib. Hilang entah kemana. Sepertinya angin
yang mengantarkan dia kemari dan angin pula yang membawa dia pergi lagi.
Aku
kembali masuk ke villa dengan perasaan yang campur aduk. Aku bingung, aku
takut, tapi aku penasaran. Dari mana datangnya Nasya??
Keesokan harinya dan hari – hari selanjutnya
aku selalu bertemu dan bermain dengannya. Dia temanku, dan aku temannya. Namun,
ada sesuatu yang aneh. Entah apa akupun tak tau. Setiap hari matanya sayu,
wajahnya pucat . Aku tanya mengapa tetapi dia selalu mengalihkan pembicaraan.
Apa dia sakit?tapi disetiap kami bergurau dia selalu ceria, seperti bahagia
mempunyai teman.
Di
hari ke 5 aku datang menunggunya di bawah pohon. Beberapa menit ku tunggu,
beberapa jam ku tunggu tapi tak ada tanda – tanda sedikitpun bahwa dia akan
datang. Apa yang terjadi? Apa benar dugaanku bahwa dia sakit? Aku harus
menjenguknya, tapi dimna? Sampai sekarangpun aku tak tau dari mana dia berasal
dan di mana rumahnya. Tiba – tiba Bang ucup penjaga villa ayahku datang dan
menyapaku.
“
Pagi mbak? Lagi opo to duduk sendirian di situ? Jangan melamun terus mba,
mending ikut bantu –bantu bang ucup aja nih bersihin kebun. “
“ah
bang ucup ini sok tau nih. Aku kan ngga lagi melamun. Aku lagi nungguin temanku
nih bang.”
“
Lho. Mbak Alika sudah dapet temen to di sini?wah, siapa itu mbak? Setau saya di
sekitar sini ngga ada yang seumuran sema mbak Alika lho?”
“Eh,
iya sih? Ngga kok bang, aku punya teman di sini , namanya Nasya. Abang belum
tau mungkin karena dia pindahan juga kali”
“
Bang ucup ini sudah tinggal lama didesa ini mbak, jadi ya bang ucup hafal semua
anak di sini, tapii yang namanya ..Eh eh .. Lho lhoo? Nasya mbak? Mbak Alika
bercanda nihh. Yah?”
“
Serius bang, aku kenalan sama dia 5 hari yang lalu. Anaknya cantik, baik juga
bang. ”
“
Mbak, gadis yang bernama Nasya itu sudah meninggal 1 bulan yang lalu mbak.
Ayahnya dulu pemilik villa ini sebelum akhirnya di beli ayah mbak Alika. Nasya
itu memang sangat betah duduk – duduk di bawah pohon ini, sama seperti mbak
Alika, Nasya juga mengagumi warna merah menyala. Tapi dia tak punya teman
satupun, di villa inipun dia di tinggal ayah-ibunya sendirian, orang tuanya tinggal
di luar negeri, jadi bang Ucup yang selalu nemenin mbak Nasya itu. Mungkin
karena masalah itu dia tak sanggup lagi menanggung beban yang berat di benak
serta pikiranya sendiri jadi dia lebih memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di
pohon ini juga. “
“
oh, jadi begitu yah bang, jadii.. yang selama ini menemani aku ..”
“Ya.
Itu memang Nasya. “
Hhmm...
Jadi karena itu dia memberikan aku selendangnya dan memintaku sebagai temannya.
Nasya .. Aku senang pernah menjadi temanmu dan mengisi kekosonganmu selama ini,
hingga kamu bisa tenang dan memdapat teman baru di surga sana . ^_^






0 komentar:
Posting Komentar